Kamis, 28 Februari 2008

KEUTAMAAN NIKAH

1. "Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya" (HR. Abu Sa'id)
2. "Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)" (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir" (Ar-Ruum 21)

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (An Nuur 32)

"Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah" (Adz Dzariyaat 49)

"Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk" (Al-Isra 32)

"Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya" (Al-A'raf 189)

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)" (An-Nur 26)

"Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan" ( An Nisaa : 4)

"Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku" (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)

"Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah" (HR. Tirmidzi)

"Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (khalwat) dengan seorang perempuan, karena pihak ketiga adalah syaithan" (Al Hadits)

"Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya" (HR. Bukhori-Muslim)

"Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat, sebab syaithan menemaninya. Janganlah salah seorang di antara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya" (HR. Imam Bukhari dan Iman Muslim dari Abdullah Ibnu Abbas ra).

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya, karena sesungguhnya yang ketiga adalah syetan" (Al Hadits)

"Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah" (HR. Muslim)

"Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas" (H.R. At-Turmidzi)

"Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya pada separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada separuh yang lain" (Al Hadits)

"Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya" (Al Hadits)

"Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram" (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)

"Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara" (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud)

"Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak" (HR. Abu Dawud)

"Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain" (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)

"Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari)

"Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang" (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani)

"Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat" (HR. Ibnu Majah,dhaif)

"Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka" (Al Hadits)

"Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya" (HR. Thabrani)

"Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama" (HR. Ibnu Majah)

"Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama" (HR. Muslim dan Tirmidzi)

"Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)

"Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya." (HR. Ashhabus Sunan)

"Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad)

"Dari Anas, dia berkata : " Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya" (Ditakhrij dari An Nasa'i)

"Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing." (HR. Bukhari dan Muslim)

Rabu, 27 Februari 2008

INI KAYAKNYA T2

Siapa nih numpang mejeng di delet jangan yah???????????????????

KASIH KOMENTAR BOS!!!!!!!!!!!!!!!!

RAJA BOKEP ; ARMAN KASIH KOMENTAR ATAU LU NGISI DONG!!!!!!!!!!!!!!

ISNI AYO DONG.......................

RIRI JANGAN CEMBERUT MULU NATI CEPET TUA.....................


SUPERVISOR DAPUR (RAIS) GAJI CEPET AMBIL NANTI GAK KEBAGIAN.................

YADI; AWAS KETINGGALAN BEKAS OBAT KUAT


RAHMAT; JANGAN ADA YANG MINTA KALO LAGI MAKAN.............



AYO...................AYO DIOBRAL DI OBRAL

IMAM AL GHOZALI

Adab Pernikahan

Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali

ntuk menggalakkan pernikahan, Allah s.w.t telah berfirman:
“Dan kahwinkanlah orang bersendirian (belum kahwin) di antara kamu” (QS an-Nur: 32)

Ayat di atas menunjukkan suatu perintah ke atas orang yang belum pernah berkahwin supaya berkahwin.

FirmanNya yang lain:
“Maka janganlah kamu menghalang-halangi wanita-wanita untuk berkahwin semula dengan suami-suami mereka.” (al-Baqarah: 232)

Ayat yang tersebut di atas pula melarang untuk menghalang wanita-wanita yang diceraikan oleh suami-suami mereka untuk kembali berkahwin semula dengan mereka.

Kemudian Allah s.w.t. telah berfirman lagi dalam menghuraikan sifat-sifat para Rasul dan memuji sikap mereka:

“Dan kami (Allah) sunguh-sungguh telah mengutus beberapa Rasul sebelum engkau dan Kami menjadikan untuk mereka isteri-isteri dan keturunan.” (QS. ar-Ra’ad: 38)

Allah s.w.t. telah menyebutkan yang demikian itu untuk menunjukkan tanda limpahan kurniaNya serta melahirkan kelebihanNya. Kemudian Allah s.w.t juga memuji para waliNya dengan suatu permohonan dalam bentuk doa sebagaimana firmanNya:

“Dan orang-orang yang berkata: Wahai Tuhan Kami! Kurniakanlah Kami dari isteri-isteri dan keturunan kami cahayamata kami.” (QS al-Furqan: 74)

Di antara Hadis pula, sabda Rasulullah s.a.w.:
“Nikah itu adalah sunnatku, maka barangsiapa yang benci kepada sunnatku, niscaya telah membenci aku.”

Sabdanya lagi:
“Barangsiapa yang mampu untuk berumahtangga, maka hendaklah ia berkahwin kerana yang demikian itu dapat memelihara mata dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa kerana puasa itu adalah dapat menahan keinginan (hawa nafsu).”

Hadis ini jelas menunjukkan bahwa sebab digalakkan berkahwin itu supaya terhindar dari kecelakaan yang mungkin dilakukan oleh mata dan kemaluan. Sebab itulah bagi orang yang tak mampu pula digalakkan supaya berpuasa, kerana puasa itu akan melemahkan anggota seks.

Rasulullah (s.a.w) bersabda lagi:
“Jika yang datang meminang kepada kamu orang yang kamu percaya tentang agamanya dan amanatnya, maka sebaik-baiknya kamu mengahwinkannya saja. Jika tidak, dikhuatiri akan berlaku fitnah di atas muka bumi dan kecelakaan yang besar.”

Hadis ini juga menunjukkan sebab mengapa perkahwinan itu harus digalakkan kerana ditakuti berlaku perkara yang tak baik.

Bersabda Rasulullah s.a.w:
“Setiap amalan anak Adam akan terputus melainkan tiga saja (salah satunya) anak yang saleh mendoakannya.”*

_______________________

* Demikianlah bunyi Hadis itu dalam kitab Ihya Ulumiddin. Tetapi
yang saya hafal nasnya adalah seperti berikut: Jika mati anak Adam
terputuslah amalannya melainkan tiga perkara: Ilmu yang boleh dimanfaatkan, sedekah jariah (yang manfaatnya terus-menerus) serta anak yang saleh yang mendoakannya (dengan yang baik).

Anak tidak akan terhasil, melainkan dengan berkahwin.

Adapun yang mengenai atsar pula, maka telah berkata Ibnu Abbas r.a.: Tidak sempurna ibadat orang yang beribadat sehingga ia berkahwin. Mungkin sekali Ibnu Abbas telah menjadikan syarat berkahwin itu sebagai sebahagian dari ibadat atau sebagai menyempurnakan ibadat ataupun barangkali beliau bermaksud bahwa hati seseorang itu tidak dapat mengalahkan syahwat melainkan dengan berkahwin dan ibadat pula tidak akan sempurna melainkan dengan ketetapan dan ketanangan hati. Ibnu Abbas selalu mengumpulkan anak-anak buahnya bila mereka telah menginjak alam dewasa seraya berkata kepada mereka: Kamu sekalian telah dewasa. Kalau kamu sekalian ingin berkahwin, aku bersedia untuk mengahwinkan kamu. Sebab seorang hamba itu telah berzina akan tercabutlah cahayan keimanan dari hatinya.

Adapun faedah-faedah perkahwinan ada lima iaitu:

(1) Mendapat anak
(2) Mematahkan syahwat
(3) Mentadbirkan rumahtangga
(4) Membiakkan keluarga
(5) Menggiatkan diri untuk memenuhi keperluan.

Hal-hal yang harus diperhatikan bila memilih jodoh.

Hal-hal baik harus diperhatikan untuk mencapai kehidupan yang
tenteram yang berkaitan dengan persoalan waita supaya ikatan perkahwinan menjadi kekal serta tujuan-tujuan yang baik dari perkahwinan itu akan tercapai ialah delapan perkara:
(1) Agama
(2) Kelakuan
(3) Kecantikan
(4) Ringan maskahwin
(5) Boleh melahirkan anak (tidak mandul)
(6) Perawan
(7) Keturunan baik
(8) Bukan keluarga yang dekat

Berikut keterangan lanjut mengenai perkara-perkara ini secara satu
persatu:

Pertama: Hendaklah isteri itu seorang yang saleh dan berpegang teguh kepada agama. Inilah tujuan utama perkahwinan yang harus diambil berat. Sebab sekiranya isteri itu lemah agamanya, bagaimana dapat ia memelihara diri dan marwahnya. Kalaulah berlaku sesuatu kecemaran yang menyentuh kehormatan dirinya, tentulah muka suami akan terconteng arang, sedang hatinya akan tergoda oleh perasaan cemburu, makalah kehidupannya ketika itu akan menjadi sempit. Kemudian jika si suami mengikutkan kata hati yang penuh dengan cemburu itu, tentulah akan porak-peranda seluruh kehidupannya, dan jika dia mengambil sikap mempermudahkan tentang perkara yang berlaku, tentulah dia akan dituduh mengambil sikap enteng saja tentang agama dan marwahnya, dan akan dituduh sebagai suami yang dayus.

Walhasil si suami akan berada dalam keadaan yang serba-salah sekali. Demikian pula sifat wanita yang rosak agamanya akan sering
mempermain-mainkan harta benda suaminya atau sebagainya, sehingga hidup si suami dengannya akan sentiasa kurang tenteram. Jika suami terus mendiamkan diri dan tidak melarang kelakuannya, niscaya ia menjadi kongsi dalam maksiat dengan isterinya dan berarti menentang firman Allah Ta’ala:
“Peliharalah diri kamu dan keluargamu dari api neraka.”
(at-Tahrim: 6)

Jika si suami menegah si isteri dan melarang kemahuannya akan
timbul pula pertengkaran sehingga boleh memendekkan umur si suami. Sebab itulah Rasulullah s.a.w sangat-sangat menggalakkan dan meransang supaya memilih wanita yang kukuh agamanya. Baginda (SAW) bersabda:
“Wanita itu dikahwini kerana hartanya atau kecantikannya, keturunannya atau agamanya, maka hendaklah anda memilih yang mempunyai agama yang kukuh, niscaya anda akan bernasib baik.”

Kedua: Baik budi pekertinya, sebab jika isteri itu banyak mulutnya, lidahnya suka menyebut kata-kata yang rendah, suka mengingkari nikmat, niscaya akan lahir daripadanya lebih banyak bahaya daripada manfaat. Kesabaran atas lidah kaum wanita seumpama ini adalah suatu cubaan yang biasanya dicubakan oleh Allah ke tasa para aulianya.

Ketiga: Manis atau cantik rupanya; ini juga sering dituntut oleh orang kerana dengannya akan terpelihara diri dari mencari yang lain, sebab tabiat manusia biasanya tiada puas dengan isteri yang buruk rupa. Apa yang kami sebutkan supaya memilih yang teguh agamanya bukanlah berarti melarang memilih yang cantik rupanya, bahkan yang dilarang ialah memilih yang cantik semata-mata tanpa mementingkan perkara agama. Sebab biasanya wanita yang cantik itu menarik orang kepada perkahwinan, sedangkan urusan keagamaannya sering diletakkan di belakang saja. Jadi anjuran untuk memilih isteri yang cantik itu untuk menjaga rumahtangga menjadi rukun dan damai. Malah syariat sering mementingkan supaya memerhatikan sebab-sebab kerukunan rumahtangga antara suami dan isteri, kerana itulah disunnatkan melihat bakal isteri sebelum berkahwin, sebagai mana sabda Rasulullah (SAW):
“Apabila Allah telah mentakdirkan cinta dalam diri seseorang
dari kamu, hendaklah dia melihat kepadanya (wanita) kerana yang demikian itu lebih terjamin untuk mengeratkan perhubungan antara keduanya.”

Setengah para ahli wara’ tidak akan mengahwinkan anak-anak
perempuan mereka melainkan setelah dilihat oleh calon-calon suaminya untuk memelihara diri dari tuduhan menipu.

Berkata al-A’masy: Semua perkahwinan dijalankan tanpa diberi
peluang kepada calon suami untuk melihat terlebih dulu akan berkesudahan dengan kesusahan dan kekesalan.

Pernah diriwayatkan, seorang lelaki berkahwin dalam zaman
Khalifah Umar Ibnul-Khattab r.a. Orang ini mengecat rambutnya yang beruban itu sehingga kelihatan sebagai seorang anak muda. Apabila ternyata perkara itu kemudiannya, keluarga si isteri pun mengadu kepada khalifah Umar, kata mereka: Kita menyangka ia seorang anak muda. Maka oleh Umar dipukulnya orang itu sehingga ia mengaduh. Khalifah berkata: Engkau telah menipu keluarga isterimu.

Penipuan serupa itu boleh berlaku pada perkara kecantikan dan
budi pekerti. Maka sewajarnyalah dilenyapkan tipu daya dalam kecantikan itu dengan diberi tontonan terlebih dulu. Dalam akhlak dan budi pekerti pula, dapat diketahui dengan ditanyakan kepada orang lain ataupun dengan menyaksikan sendiri orangnya. Dan janganlah seseorang itu berani menceritakan kelakuan orang lain, melainkan ia memang benar-benar seorang bijaksana dan mengetahui selok-belok orang yang diceritakan itu secara lahir dan batin, tidak cenderung kepadanya lalu dipuji secara berlebih-lebihan, dan tidak pula membenci sehingga ia mencacinya dan mengatakan yang bukan-bukan. Sebenarnya memang sukar sekali ditemui seorang orang menikmati syarat-syarat ini, dan biasanya amat jarang pula seseorang itu dapat bercakap benar dalam perkara serupa ini, malah kebohongan dan pengeliruan sering melanda suasana ini. Maka seyogyanyalah bagi orang yang ingin menjaga diri, haruslah berhati-hati dalam perkara seumpama ini.

Keempat: Hendaklah maskahwin si isteri tidak memberatkan kerana memang dilarang oleh agama untuk memahal-mahalkan maskahwin. Setengah para sahabat berkahwin dengan maskahwinnya emas seberat biji kurma yang dianggarkan berharga tidak lebih dari dari lima dirham. Saib Ibnul-Musaiyab mengahwinkan puterinya kepada Abu Hurairaah r.a dengan maskahwinnya sebanyak dua dirham saja, kemudian dia pun menghantarkan puterinya itu kepada Abu Hurairah pada malam itu juga dan setelah diserahkannya di rumah Abu Hurairah lalu dia kembali, Said tidak kembali lagi ke rumah Abu Hurairah itu melainkan setelah berlalu tujuh hari untuk bertanyakan khabar saja.

Ada sebuah Hadis yang mengatakan bahwa antara keberkahan seorang wanita ialah melekaskan perkahwinannnya sehingga ia dapat melahirkan anak dan ringan pula maskahwinnya. Sebagaimana makruh hukumnya memahalkan maskahwin wanita ke atas lelaki, demikian pula makruh hukumnya bertanyakan harta kekayaan wanita oleh lelaki. Tidak sewajarnyalah bagi lelaki untuk menikahi seorang wanita, kerana tamak pada harta kekayaannya semata-mata. Jika lelaki memberikan hadiah kepada keluarga siwanita, maka janganlah ia mengharapkan balasan dari pihak wanita dengan hadiah-hadiah yang lebih banyak lagi. Demikianlah pula halnya dengan pihak wanita, kerana niat menginginkan balasan adalah suatu niat yang tidak baik, dan termasuk ke dalam larangan maksud ayat berikut:
“Janganlah engkau memberikan lantaran menginginkan balasan yang
lebih banyak.”
(QS al-Muddatstsir: 6)

Kelima: Hendaklah ia mengetahui, bahwasanya si wanita itu boleh melahirkan anak, kiranya diketahui kemandulannya, maka hendaklah ia menahan diri dari berkahwin dengannya.

Keenam: Hendaklah wanita itu seorang gadis. Berkata Rasulullah s.a.w. kepada Jabir yang baru menikahi seorang janda: “Mengapa tidak menikahi si gadis yang boleh engkau bergurau senda denganmu.”

Ketujuh: Hendaklah wanita itu dari golongan keturunan yang baik, maksudnya dari kaum yang terkenal menjaga urusan agamanya dan termasyhur dengan perjalanannya yang lurus. Sebab wanita dari rumahtangga yang seumpama itu akan memelihara dan mendidik putera-puterinya pada jalan yang diredhai oleh Allah dan RasulNya. Andaikata ia seorang yang tidak berpendidikan bagaimana ia dapat mendidik dan memelihara anak-anaknya.

Dalam sebuah Hadis: “Pilih-pilihlah tempat meletakkan air mani kamu, kerana urat itu beradu.”

Kedelapan: Hendaklah wanita itu bukan dari kerabat yang dekat, sebab yang demikian itu akan mengurangkan syahwat, sedangkan itu merupakan perkara utama yang menarik kepada wanita.

Tugas Wali

Seorang wali harus memerhati dan meneliti kelakuan dan geraklaku calon suami, jangan sampai mengahwinkan puterinya kepada seorang lelaki yang cacat atau buruk budi pekertinya, ataupun lemah agamanya. Begitu juga seorang lelaki yang tidak mempunyai tanggungjawab, ataupun yang tidak sekutu dengan kedudukannya. Apabila ia mengahwinkan puterinya dengan seorang zalim atau fasik atau yang lemah agamanya atau peminum arak, maka ia telah melanggar printah agamanya dan ketika itu akan terdedahlah kepada kemurkaan Allah Ta’ala kerana ia telah mencuaikan persoalan silatur-rahmi (perhubungan tali kerabat) dan telah memilih jalan yang salah.

Seorang ayah telah datang meminta nasihat kepada al-Hasan,
katang: Telah banyak orang yang datang meminangi puteriku, tetapi aku tak tahu siapa yang harus kukahwinkan dia. Berkata al-Hasan: Kahwinkanlah puterimu itu dengan orang yang banyak taqwanya kepada Allah. Andaikata suaminya membencinya, niscaya tiada dianiayainya.

ADAB PERGAULAN SUAMI-ISTERI SEJAK PERKAHWINAN

Kewajiban suami

Sebagai seorang suami, dia harus memelihara kesederhanaan dan
kesopanan dalam dua belas perkara iaitu:
(1) Walimatul’urus (undangan perkahwinan)
(2) Pergaulan
(3) Bersenda-gurauan
(4) Pimpinan
(5) Kecemburuan
(6) Pemberian Nafkah
(7) Pengajaran
(8) Pembahagian (kalau isteri lebih dari satu)
(9) Pendidikan sewaktu berlaku penyelewengan
(10) Persetubuhan
(11) Kelahiran anak
(12) Perceraian dengan talaq

Pertama: Mengadakan walimah atau undangan adalah sunnat hukumnya. Berkata Anas r.a.: Apabila Rasulullah s.a.w melihat tanda inai pada Abdul Rahman bin Auf r.a., baginda (SAW) bertanya: “Apa ini?” Abdul Rahman menjawab: Saya telah menikmati seorang wanita dengan maskahwin emas seberat biji kurma. Maka Rasulullah s.a.w pun mendoakan bagi Abdul Rahman:
“Moga-moga Allah memberkati anda! Adakanlah walimah, walaupun dengan makan roti dan kurma.”

Selain itu sunnat memberikan tahniah (ucapan selamat pengantin baru) kepada orang yang baru berkahwin. Seorang yang berjumpa dengan pengantin lelaki mengucapkan:
“Moga-moga Allah memberikan keberkahan kepadamu dan keberkahan untukmu dan menghimpunkan kamu berdua dalam kebaikan.”

Sunnat juga mengisytiharkan perkahwinan kepada orang ramai supaya diketahui. Bersabda Rasulullah (SAW):
“Yang memisahkan antara yang halal dengan yang haram ialah bunyi-bunyian rebana dan nyanyian.”

Kedua: Memelihara pergaulan yang baik dengan isteri-isteri serta menanggung segala keburukan yang mungkin berlaku daripada mereka sebagai menunjukkan tanda belas kasihan terhadap mereka itu.

Allah telah berfirman:
“Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nisa’: 183)

Allah telah berfirman lagi pada menyatakan kebesaran hak mereka ke atas suami:
“Dan mereka sekalian (isteri-isteri) telah mengambil suatu perjanjian yang berat daripada kamu.”
(QS an-Nisa’: 20)

FirmanNya lagi:
“Dan teman yang di samping.” (QS an-Nisa’: 36)

Setengah para mufassirin mengartikan ayat ini dengan isteri yang sering berada di samping suami sepanjang masa.

Maksud memperbaiki pergaulan dengan isteri-isteri itu bukanlah dengan semata-mata menahan diri dari menimpakan ke atas mereka sesuatu yang tiada diingininya, malah menanggung segala yang tiada menyenangkan yang mungkin timbul dari mereka, serta bersifat sabar dan tabah untuk menghadapi segala sikap kurang pertimbangan dan kemarahan mereka. Ini adalah untuk menurut jejak langkah Rasulullah s.a.w. kerana isteri-ister Rasul (SAW) sendiri kadang-kadang melakukan sesuatu yang tiada menyenangkan hati Rasulullah s.a.w dan ada pula yang merajuk meninggalkan baginda sampai sehari suntuk hingga ke malam.

Ketiga: Hendaklah suami menambah atas sikap kurang pertimbangan dari isteri itu dengan bersenda gurau, memuji-muji serta bermain-main dengannya, kerana semua itu akan melembutkan hati kaum wanita. Rasulullah s.a.w seringkali bersenda gurau dengan isteri-isterinya dan menuruti kehendak-kehendak mereka, sesuai dengan kadar akal fikiran mereka dalam segala macam perbuatan dan perilakunya. Sekali peristiwa pernah baginda Rasul (SAW) mengajak Siti Aisyah r.a. melihat permainan orang-orang habsyi di kawasan masjid dan berdirilah baginda di situ menemaninya sebegitu lama sehingga baginda berkata: “Sudah puas?”

Bersabda Rasulullah s.a.w.:
“Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik sekali terhadap isterinya dan aku adalah orang yang terbaik sekali di antar kamu terhadap isteriku.”

Berkata Rasulullah s.a.w kepada Jabir:
“Mengapa tidak perawan yang boleh engkau bermain-main dengannya dan ia bermain-main denganmu?”

Seorang wanita dusun telah mensifatkan suaminya yang telah meninggal dunia dengan berkata: Demi Allah, sebenarnya suamiku itu seorang yang sering ketawa ketika di rumah, pendiam ketika di luar rumah, ia makan apa saja yang aku hidangkan (tidak cerewet), tidak pernah bertanya bila sesuatu tidak ada.

Kewajiban suami

Keempat: Janganlah sang suami melampaui batas dalam persenda-gurauannya dengan isteri, ataupun bersikap terlampau baik sekali sehingga isteri naik muka dengan memaksa suami menurutkan segala kehendak hawa nafsunya sehingga ke batasan merosakkan akhlak dan kelakuan si isteri. Dengan itu terjatuhlah marwah suami di hadapan khalayak ramai. Tetapi yang dianjurkan ialah bersikap sederhana pada segala keadaan. Jika dilihat sesuatu kemungkaran yang dilakukan oleh isteri. Hendaklah suami jangan berdiam diri saja, bahkan menegahnya dan membuktikan kejantanannya sebagai seorang suami ke atas isteri. Begitu juga jangan sampai dia yang mula membuka peluang bagi isteri untuk melakukan berbaga-bagai kemungkaran, malah bila dilihat isterinya berani membuat sesuatu yang melanggar hukum syara’ atau
hukum adat dan marwah, hendaklah ia menunjukkan kemarahannya dan
ketidak-senangnya terhadap perkara itu.

Ingatlah bahwa segala terisi di dalam petala langit dan bumi itu
diciptakan Tuhan dengan keadilan maka segala yang melampaui had atau
batasan keadilan akan terlungkup dengan lawannya.

Sewajarnyalah suami mengambil jalan tengah atau ekonomi, baik dalam
menuruti atau menolak kehendak isteri. Hendaklah ia menegakkan kebenaran yang hak pada segala keputusannya, sehingga ia terselamat dari bencana isterinya. Sebab pada kebanyakkan hal, kaum wanita selalu suka berkelakuan buruk, dan sifat tersebut tidak akan terhindar dari mereka, melainkan dengan secara lemah-lembut yang diiringi dengan kebijaksanaan. Oleh itu adalah menjadi suatu tugas utama bagi sang suami memerhati dan meneliti kelakuan isterinya, bermula dengan berbagai percubaan, kemudian mencuba pula meluruskan semua kelakuan yang bengkok itu, sebagaimana yang diharuskan oleh keadaan dan peri-kerukunan rumahtangga.

Kelima: Kalaupun suami cemburu, hendaklah bersikap sederhana; iaitu jangan sampai ia melalaikan pokok-pokok persoalan yang akan menimbulkan berbagai-bagai bencana yang tidak diingini di dalam rumahtangga. Tidak sewajarnyalah suami bersikap pelampau dalam perkara melemparkan buruk-sangka terhadap isteri, atau menunjukkan kekerasan atau mengintip rahsia-rahsianya, sebab Rasulullah s.a.w pernah melarang mengikuti aurat-aurat (rahsia-rahsia) kaum wanita. Pada riwayat yang lain baginda melarang menyerempak kaum wanita pada gerak-lakunya.

Sekali peristiwa, apabila Rasulullah s.a.w kembali pelayaran di waktu malam, baginda menyeru para sahabatnya sebelum masuk kawasan negeri Madinah; Janganlah kamu mengetuk rumah isteri-isteri kamu di waktu malam, maksudnya jangan mendapatkan mereka di waktu malam begitu; malah hendaklah mereka bersabar sehingga tiba waktu siang. Malangnya ada dua orang di antara mereka melanggar nasihat Rasulullah s.a.w itu, Mereka terus kembali pada malam itu juga, lalu mereka mendapati perkara-perkara yang tiada diingini telah berlaku di rumah masing-masing.

Dalam sebuah Hadis lain: Sesungguhnya di antara berbagai-bagai cemburu, ialah cemburu yang dibenci oleh Allah azzawajalla; iaitu cemburu seorang lelaki terhadap isterinya tanpa sebab. Kerana sifat itu timbul dari perasaan buruk sangka dari dalam diri, yang mana kita di larang keras bersifat demikian. Adapun cemburu yang memang kena pada tempatnya, maka itu adalah memang semestinya ada dalam diri seseorang dan ia termasuk sifat yang terpuji; iaitu sifat cemburu yang bersebab.

Rasulullah s.a.w. telah mengizinkan kaum wanita pergi ke masjid terutama sekali untuk menunaikan dua sembahyang Hari Raya. Keluar ke masjid kaum wanita yang sopan adalah harus hukumnya, tetapi dengan syarat redha suaminya. Walau bagaimanapun meninggalkannya atau tidak menghadirinya lebih terselamat dari fitnah. Sewajarnyalah kaum wanita tidak keluar dari rumahnya melainkan bila ada hal-hal yang penting. Jika keluar untuk bersiar-siar atau kerana perkara-perkara yang tidak perlu akan mencemarkan marwah atau nama baik mereka, dan tidak mustahil pula boleh menarik kepada keburukan. Tetapi kalau mesti keluar juga, maka hendaklah ia memalingkan pemandangannya dari kaum lelaki. Kita tidak mengatakan bahwa wajah lelaki itu dikira aurat pada kaum wanita, sebagaimana wajah wanita dikira aurat pada kaum lelaki, bahkan lebih dari itu; iaitu sebagaimana wajah anak muda Amrad (anak muda yang yang sengat cantik dan putih pula kulitnya – pent)
yang dikira haram dipandang oleh kaum lelaki dalam keadaan ditakuti
berlaku fitnah. Andaikata tiada ditakuti fitnah, maka tiadalah haram
hukumnya melihat wajah Amrad itu, sebab pada lazimnya kaum lelaki terbuka wajahnya di sepanjang masa. Kaum wanita pula bila keluar rumah sememangnya dalam keadaan berselubung. Andaikata wajah kaum lelaki itu dikira aurat pada kaum wanita, niscaya mereka juga akan diperintahkan untuk menyelubungi seluruh anggotanya seperti wanita, ataupun kaum wanita itu akan dilarang untuk keluar rumah sama sekali, melainkan kerana urusan–urusan dharurat saja.

Keenam: Berlaku sederhana dalam memberikan nafkah. Jangan terlalu lokek (kikir) memberikan nafkah kepada isteri, dan jangan pula terlalu boros, maka hendaklah memilih jalan tengah; iaitu secara berekonomi. Allah berfirman:
“Makan dan minumlah dan jangan berlaku boros.” (al-A’raf: 31)

Ibnu Sirin berkata: Sunnat bagi suami menghidangkan untuk isterinya
manis-manisan seminggu sekali pada hari Jumaat. (yakni dibelinya dari
pasar — pent)

Suami hendaklah menyuruh isterinya supaya mensedekahkan makanan-makanan yang lebih-lebih yang tidak diperlukan lagi, ataupun makanan-makanan yang kalau disimpan lama niscaya akan rosak. Ini pun dikira sebagai darjat yang paling rendah dari kebaikan. Si isteri juga boleh melakukan serupa itu dengan hukum keadaaan, tanpa mendapat izin atau persetujuan dari suaminya terlebih dulu. Janganlah hendaknya si suami itu mementingkan dirinya saja dengan makanan yang sedap-sedap tanpa dibahagikan kepada isteri juga, kerana kelakuan yang demikian akan menimbulkan rasa tidak senang di dalam hati isteri, yang berkesudahan akan menghasilkan perhubungan yang tidak mesra di antara keduanya. Seterusnya jangan pula menceritakan kepada keluarganya tentang makan-minum yang ia tidak akan mahu menyediakannnya untuk mereka. Jika ia makan hendaklah ia mengajak anak-isteri makan
bersama-sama dalam suatu hidangan yang sama.

Di antara yang terpenting sekali dalam perkara memberi nafkah atau belanja ini ialah menjaga nafkah atau belanja itu supaya datang dari jurusan yang halal; dan jangan pula kerana tuntutan isteri, ia sampai mencampur-adukkan nafkah itu dengan kerja-kerja yang kotor atau tak baik. Sebab yang demikian itu adalah suatu jenayah terhadap si isteri dan tidak boleh dikatakan untuk memelihara hatinya.

Kewajiban suami

Ketujuh: Seorang yang ingin berkahwin, hendaklah terlebih dulu mempelajari hal-hal kaum wanita datang haidh dan hukumnya sekadar termampu, untuk mengetahui hukum wajibnya saja, kemudian hendaklah ia mengajar isterinya cara-cara bersembahyang dan hukumnya serta mengingatkannya tentang kemurkaan Allah Ta’ala jika ia tidak mengambil berat tentang perkara-perkara agamanya. Andaikata suami juga kurang pengetahuan dalam urusan agamanya, tetapi dia berusaha pergi bertanyakan orang-orang yang alim, lalu kembali menunjuk-ajar kepada isteri, maka dalam hal ini juga tidak patut isteri keluar kerana maksudnya bertanya. Tetapi jika suami tidak pedulikan juga, bolehlah isteri keluar kerana maksud bertanya.
Tetapi jika suami pedulikan juga, bolehlah keluar itu, meskipun suami
tidak membenarkan dan harus baginya melanggar larangan suaminya.

Kedelapan: Jika suami mempunyai beberapa isteri, maka hendaklah ia bersikap adil terhadap sekalian isteri-isterinya itu, dan tidak boleh ia melebihkan yang satu dari yang lain. Jika ia ingin keluar negeri dan mahu membawa seorang isteri bersamanya, maka hendaklah ia mengundi antara mereka. Dalam hal suami telah menzalimi seseorang isteri tentang gilirannya, maka seyogyalah ia mengqadha’kan harinya, sebab qadha’ itu wajib. Wajib yang lain ialah adil dalam pemberian dan giliran tidur dan tidak wajib baginya untuk menyamaratakan kasih sayang dan persetubuhan, sebab itu tiada termasuk dalam kuasa pilihannya.

Rasulullah s.a.w. ketika dalam masa sakitnya diusung setiap hari dan setiap malam antara isteri-isterinya bila sampai giliran masing-masing. Baginda (SAW) tetap tidur di rumah salah seorang isterinya di mana jatuh giliran masing-masing, tetapi jika ada di antara mereka yang mengalah untuk rekannya, maka baginda (SAW) akan bermalam di situ pula.

Kesembilan: Dalam keadaan isteri bernusyuz (menentang suami), hendaklah suami cuba mengajarnya dengan baik supaya ia kembali taat kepada suami. Apabila berlaku perselisihan antara suami-isteri dan perkaranya tidak dapat diselesaikan sendiri, maka jika perselisihan itu berpuncak dari kedua belah pihak, ataupun yang ternyata perselisihan itu berpuncak dari pihak suami, sedangkan isteri tidak berupaya untuk menenangkan suaminya, ataupun suami tidak dapat berbuat sesuatu untuk membetulkan semula isterinya; dalam keadaan serupa ini mestilah dicari dua orang hakam sebagai orang tengah. Seorang dari pihak suami dan seorang yang lain dari pihak isteri
untuk mengadili perkara keduanya dan cuba menyelesaikan perselisihan itu secara damai, sesuai dengan semangat firman Allah Ta’ala:
“Jika keduanya memang mahukan perdamaian, niscaya Allah akan memberikan taufiq antara mereka.” (QS an-Nisa’: 35)

Tetapi jika nusyuz itu berpuncak dari pihak isteri semata-mata, maka Allah telah pun berfirman di dalam al-Quran al-Karim:
“Pihak lelaki itu lebih mampu meluruskan kaum wanita.”
(an-Nisa’:34)

Suami tentu sekali mampu mendidik isteri dan membimbingnya ke jalan
mentaati suami secara paksaan. Dalam cara membimbingnya, haruslah diambil jalan secara berperingkat-pringkat; iaitu mula-mula dengan menasihati isterinya secara lemah-lembut dan mengingatkannya akan hak isteri terhadap suami dan mengancamnya bahwa perbuatannya itu akan dikutuki oleh Allah, jika ia ingkar. Kalau ini tidak memberikan kesan, maka hendaklah ia membelakanginya di tempat tidur sendirian meskipun ia masih tinggal bersama-sama dalam sebuah rumah. Hal serupa ini ditempohkan hingga tiga malam berturut-turut. Jika tidak berjaya juga untuk meluruskannya, maka syara’ dalam peringkat ini membolehkan suami memukul isteri dengan pukulan yang tidak mencederakan. Bila memukul jangan ditujukan di muka, kerana yang demikian adalah ditegah dengan keras.

Kesepuluh: Dalam adab-adab bersetubuh. Sunnat dimulakan dengan perbualan-perbualan manis dan bercumbu-cumbun, manakala suami menutup kepalanya dan suaranya direndahkan seolah-olah, dia sedang berbisik-bisik.

Apabila telah memuncak keinginannya, hendaklah ia menunggu seketika
sehingga isteri pula datang nafsunya. Hendaklah suami jangan mendatangi isteri sewaktu haidh bahkan hendaklah ia menunggu seketika sehingga ia bersih dari haidh, tetapi bolehlah ia bersenang-senang dengan seluruh tubuh badannya, melainkan bersetubuh saja yang dilarang.

Janganlah pula ia cuba mendatangi isteri yang dalam haidh itu pada jalan lain yang telah ditentukan. Perbuatan yang demikian itu adalah ditegah dengan keras, kerana dikhuatiri akan berlaku sesuatu bahaya atau penyakit.

Ketahuilah bahwa bahaya dan penyakit itu sentiasa ada, sebab itu ia
menjadi lebih keras haramnya daripada bersetubuh dengan isteri yang sedang haidh. Allah telah berfirman:
“Hendaklah kamu mendatangi ladangmu (isterimu) sebagaimana yang kamu ingini.” (QS al-Baqarah: 223)

Maksud dari ayat sebagaimana yang kamu ingin ialah pada bila-bila masa yang kamu merasa berkeinginan.

Sewaktu isteri masih dalam haidh, tiada tegahan bagi suami untuk
beristimna’ (mengusahakan keluarnya air mani) dengan membiarkan tangan isteri bermain-main pada seluruh tubuh badan suami, begitu pula boleh juga suami meraba-raba bahagian-bahagian yang di dalam kain isteri sehingga naik syahwatnya, hanya yang dilarang ialah bersetubuh saja. Malah tiada larangan seseorang suami mengajak isteri yang dalam haidh makan bersama-sama dengannya, atau baring bersama-sama, atau melakukan perbuatan-perbuatan yang seumpama itu.

Di antara adab-adab bersetubuh lagi, janganlah ia ber’azal (menumpahkan air mani di luar kemaluan wanita), sebab tidak ada suatu yang bernyawa yang telah ditakdirkan Allah wujudnya melainkan ia tetap akan wujud bagaimana sekalipun diusahakan untuk mengelakkannya.

Mengenai perbuatan ‘azal itu, ada berbagai-bagai pendapat ulama. Ada yang mengharuskan [mungkin maksudnya ‘makruh’, wallahu a’lam, ed. MD], dan ada pula yang menghalalkan dengan syarat keredhaan isteri. Jika isteri tidak redha maka dihukumkan haram supaya isteri tidak teraniaya. Tetapi pendapat yang betul ialah pendapat yang pertama, iaitu harus hukumnya.

Tersebut dalam Sahih Bukhari dan Muslim sebuah Hadis dari Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh jabir r.a. katanya; Kita pernah melakukan ‘azal dalam zaman Rasulullah s.a.w. padahal al-Quran masih turun ke atas baginda. Dengan lafaz yang lain: Kita pernah melakukan ‘azal, maka berita itu telah sampai ke pengetahuan Nabi Allah s.a.w tetapi baginda tiada melarang kami.

Barangkali faedah melakukan ‘azal’ ini kerana hendak memelihara kecantikan isteri dan kesihatannya supaya sering dapat bersenang-senang dengannya. Ataupun untuk mengekalkan perkongsian hidup dengannya supaya terjatuh dari bahaya talaq. Ataupun kerana sebab-sebab yang lain, seperti tidak suka banyak anak sehingga menyebabkan kesukaran untuk mencari nafkah, atau untuk memelihara diri dari keperluan bekerja terus-menerus untuk mencari kelebihan rezeki, dan melakukan kerja-kerja yang tak baik atau lain-lain lagi. Sebab kurangnya kesukaran dalam kehidupan akan menolong kepada menegakkan agama.

Kesebelas: Dalam adab-adab melahirkan anak, ada lima perkara:

(1) Jangan sampai terlalu gembira bila menerima anak lelaki,
atau terlalu dukacita bila mendapat anak perempuan, kerana dia tidak
mengetahui di mana letaknya tuah di antara keduanya. Betapa banyaknya
orang yang dianugerahi anak lelaki merasa kesal di kemudian hari, dan
bercita-cita kalaulah anak itu tiada dilahirkan sama sekali. Yang lain
pula mengharapkan anak itu, kalau boleh menjadi perempuan saja. Bahkan pada menerima anak perempuan itu, ada kalanya lebih besar pahalanya.

Berkata Anas meriwayatkan Hadis dari Rasulullah s.a.w., sabdanya:
Barangsiapa yang mempunyai dua orang anak perempuan, ataupun dua orang saudara perempuan, lalu ia membuat baik kepada keduanya selama ia berdampingan dengan mereka, nanti kelak di dalam syurga saya dan dia seperti dua jari ini.

(2) Hendaklah diazankan di telinga bayi sebaik-baik saja ia
lahir dari perut ibunya.

(3) Hendaklah bayi itu dinamakan dengan nama yang baik.
Sesiapa yang telah diberikan nama yang tak baik, sunnat diubah nama itu dengan yang lain.

(4) Sunnat dibuatkan aqiqah iaitu menyembelih dua ekor
kambing bagi anak lelaki atau seekor bagi anak perempuan. Kemudian sunnat pula disedekahkan emas atau perak seberat rambutnya yang dipotong pada hari ketujuh.

(5) Hendaklah diamanahkan ke dalam mulutnya dengan sebutir
kurma atau lain-lain manisan, kerana yang demikian itu dari amalan
Rasulullah s.a.w

Kedua belas: Dalam perkara talaq yang mana ia merupakan perkara harus yang amat dibenci di sisi Allah Ta’ala. Talaq itu dihukumkan harus, apabila ia tiada disertai dengan penganiyaan dengan jalan yang salah. Namun demikian apabila seseorang telah mentalaq isterinya, maka tentulah ia telah menyakiti hatinya, sedangkan menganiaya atau menyakiti orang lain tiada dibenarkan oleh agama melainkan jika berlaku kesalahan dari pihak isteri, ataupun timbulnya suatu dharurat dari pihak lelaki. Allah telah berfirman:
“Jika isteri-isteri itu mentaati kamu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menganiayai mereka.” (QS an-Nisa’: 34)

Yakni, maksudnya janganlah pula kamu mencari jalan untuk mentalaqkan mereka itu. Tetapi jika ayah si suami tiada senang dengan isteri anaknya, bukan kerana sesuatu sebab yang tak baik, maka hendaklah is mentalaqkan isteri sebagai tanda ketaatan kepada ayah.

Dalam hal isteri menyakiti suami, ataupun berlaku buruk terhadap keluarga suami, maka is dikira bersalah. Begitu pula, jika isteri itu buruk perilakunya ataupun rosak agamanya. Tetapi jika penganiyaan berlaku dari suami terhadapnya, maka ada jalan bagi isteri untuk menebus dirinya dari suami yang zalim itu dengan membayar wang. Dalam hal ini, makruh bagi lelaki untuk menuntut tebusan wang lebih daripada kerugiannya, kerana yang demikian itu adalah semacam tekanan atau bebanan untuk memberati isteri. Bahkan ini berarti seolah-olah sebagai memperniagakan kemaluan wanita.

Allah telah berfirman:
“Tidak mengapa atas keduanya pada apa yang dibayar oleh perempuan untuk menebus dirinya.” (QS al-Baqarah: 229)

Jadi pengambilan apa yang telah diambil dari suami itu adalah hak untuk dijadikan tebusan diri isteri dari suami. Adapun isteri yang meminta talaq apa-apa sebab, maka ia berdosa besar sekali.

Seorang suami yang ingin mentalaqkan isterinya, hendaklah memerhatikan empat perkara berikut, iaitu:

(1) Hendaklah ia mentalaqkan isterinya dalam keadaan suci
dari haidh yang belum ia bersatu dengannya. Sebab talaq dalam waktu haidh ataupun dalam masa suci yang ia telah bersatu dengannya adalah seperkara did’ah yang haram, sekalipun memang ia sengaja melakukan perbuatan itu menjadikan masa iddahnya lebih panjang. Sekiranya ia telah melakukan itu, maka hendaklah ia merujuk isterinya semula. Kemudian ia tunggu pula hingga ia suci sekali lagi, kemudian haidh, kemudian suci lagi, dan pada masa itu terserahlah kepadanya, kalau mahu ditalaqkannya ataupun dibiarkan saja dalam aqadnya.

(2) Hendaklah ia menjatuhkan talaq satu, kerana dengan talaq
satu pun sudah terhasil meksudnya. Kemudian faedah dari talaq satu, suami boleh rujuk semula sewaktu dalam iddah, jika ia merasa sesal dengan keputusannya yang mula-mula. Jika ia menjatuhkan talaq tiga sekaligus, barangkali ia akan menyesal, maka ketika itu ia tidak boleh kembali lagi kepada isterinya melainkan dengan jalan muhallil; iaitu isterinya dinikahi oleh orang lain lebih dulu sekadar pelepasan nafsunya, kemudian diceraikan dan barulah boleh berkahwin semula dengannya. Aqad nikah muhallil ini ditegah dan dalam hal ini dialah yang menjadi penyebab aqad muhallil itu.

(3) Hendaklah ketika menyebutkan talaq itu dengan suara
lemah-lembut dan menerangkan sebab mengapa ia terpaksa mentalaqnya tanpa kekerasan. Dalam pada itu hendaklah ia menyabarkan dan menggembirakan hati isteri yang ditalaqnya itu dengan sesuatu hadiah, sebagai penutup sakit hatinya dikeranakan berita talaq yang disampaikan kepadanya. Allah telah berfirman:
“Dan berikanlah (isteri-isteri yang diceraikan itu) pemberian,” (QS al-Baqarah: 236)

Al-Hasan bin Ali r.a. pernah menyampaikan perkata talaq dua orang
isterinya kepada para sahabatnya dengan meminta mereka menyebutkan tentang talaq itu kepada dua isteri tersebut. Kemudian beliau telah membayar kepada setiap isteri sepuluh ribu dirham.

(4) Janganlah sampai suami membocorkan rahsia isteri, sama
ada sewaktu talaq ataupun sewaktu menikah, sebab ada tegahan keras yang melarang membocorkan rahsia kaum wanita dengan ancaman yang paling berat.

Hak-hak Suami atas Isteri

Isteri wajib mentaati suami pada segala yang dikehendaki oleh suami
daripada perkara-perkara yang tiada maksiat padanya. Di sana terdapat
banyak hadis yang diriwayatkan dalam menentukan hak suami atas isteri.

Rasulullah s.a.w telah bersabda:
“Mana saja wanita yang meninggal dunia, sedangkan suaminya redha
terhadapnya maka ia akan masuk syurga.”

Sabdanya (SAW) lagi:
“Apabila seorang wanita bersembahyang lima waktunya, berpuasa sebulannya, memelihara kemaluannya dan mentaati suaminya niscaya ia akan masuk syurga yang disediakan oleh Tuhannya.”

Berkata Ibnu ‘Abbas: Telah datang seorang wanita dari Khat’s am kepada Rasulullah s.a.w. lalu berkata: Saya ini seorang wanita yang janda dan saya akan berkahwin . Apakah haknya suami? Baginda (SAW) menerangkan: “Di antara hak suami atas isteri, ialah apaila ia mengingininya serta memujuknya supaya menyerahkan diri sedang isteri suci dari haidh, janganlah menolaknya.”

Hak-hak yang lain ialah: Isteri tidak boleh memberi apa-apa yang ada di dalam rumah kepada orang lain, melainkan dengan izin suami. Jika ia melanggar juga maka berdosalah isteri itu manakala suami mendapat pahala dari pemberian itu. Isteri tidak boleh berpuasa secara sukarela, melainkan dengan izin suami, jika isteri melanggar juga, niscaya jadilah puasanya itu lapar dan dahaga semata-mata, tanpa mendapat apa-apa balasan dari Allah. Jika isteri keluar dari rumah tanpa izin suami, niscaya Malaikat akan melaknatinya sehingga ia kembali ataupun bertaubat.

Kesimpulannya, hak-hak suami atas isteri itu ada banyak, tetapi yang terpenting sekali ialah dua perkara:
(1) Memelihara diri dan menutup rahasia
(2) Tidak terlampau menuntut perkara-perkara yang tidak diperlukan, dan menjaga agar usahanya tidak termasuk perkara yang haram.

Hak puteri atas kedua ibu-bapa ialah: Mendidiknya cara pergaulan yang baik dan adab-adab percampuran dengan suami sebagaimana yang diriwayatkan dari Asmak binti Kharijah al-Fizari, katanya kepada puterinya ketika hari perlangsungan puterinya itu: “Kini engkau telah keluar dari sangkar yang di dalamnya engkau telah dibesarkan, berpindah ke tempat tinggal yang engkau belum pernah mengenalinya lagi, dan kepada seorang teman hidup yang engkau belum biasa dengannya. Maka umpamakanlah dirimu itu sebagai sekeping tanah, niscaya ia akan menjadi tiangnya. Kalau engkau menganggap dirimu
sebagai jariah, tentulah ia akan menganggap dirinya hamba sahaya. Jangan membebaninya agar ia tiada meningalkanmu. Jangan menjauhinya agar ia tiada melupaimu. Jika ia mendekatimu setapak, datangilah ia dua tapak. Jika ia menjauhimu, jauhilah ia dengan baik. Jagalah hidungnya, telinganya dan matanya, sehingga ia tiada mencium sesuatu melainkan yang baik-baik, tiada mendengar sesuatu melainkan yang indah-indah dan tiada melihat sesuatu melainkan yang cantik-molek.”

Kesimpulan dari kata-kata yang berkaitan dengan adab-adab kaum wanita tanpa banyak bicara ialah: Hendaklah ia merupakan sendi utama di dalam rumah tangganya. Senantiasa melazimi jahitan dan tenunannya. Tidak banyak naik-turunnya. Sedikit bicaranya dengan tetangga, ia tidak mendatangi tetangganya melainkan jika ada perkara yang perlu yang mendorongnya ke sana. Memelihara hak suaminya ketika ia ada di rumah ataupun tiada di rumah. Sentiasa menimbulkan kegembiraan hati suami pada segala kelakuannya. Tiada mengkhianati dirinya terhadap suami dan hartanya. Tiada keluar dari rumah melainkan dengan izin suami. Dan jika diizinkan ia keluar, hendaklah dalam keadaan tertutup. Memilih jalan-jalan yang sepi dari orang ramai, tidak memilih jalan raya atau pasar. Memelihara suaranya supaya tidak terdengar oleh orang-orang asing atau dikenali peribadinya oleh mereka itu. Tidak memperkenalkan dirinya kepada rakan-rakan suaminya dalam menunaikan segala keperluan, tetapi handaklah ia berpura-pura terhadap sesiapa yang disangka mengenalinya ataupun memang di mengenalinya.

Tugas utama kaum wanita ialah memperbaiki urusannya sendiri dan urusan rumahtangganya, tetap menunaikan semua sembahyang dan puasa. Jika rakan suaminya meminta izin masuk ke dalam rumahnya sedang suami tiada di rumah, maka tidak boleh diizinkan masuk dan tiada boleh banyak berbicara dengannya, sebagai menunjukkan tanda cemburu atas dirinya sendiri dan suaminya. Hendaklah isteri sentiasa merasa puas dengan segala yang diberikan oleh suaminya, sebagai rezeki dari Allah ta’ala. Ia harus selalu mengutamakan hak suami atas dirinya sendiri, begitu pula atas segala hak kaum kerabatnya. Sering membersihkan dirinya sendiri, serta bersedia, pada bila-bila masa untuk menerima keinginan suami. Hendaklah ia sentiasa bersifat belas kasihan terhadap anak-anaknya, memelihara dan melindungi mereka dari segala yang tidak baik, tidak mengeluarkan caci-maki terhadap anak-anak dan tiada menggunakan lidahnya hanya untuk menjawab dan menentang suami.

Di antara adab-adabnya pula ialah: isteri tiada terlalu bermegah-megah dengan kecantikan dirinya, dan tiada pula mengeji suaminya kerana keburukannaya. Adab yang lain lagi ialah: Hendaklah isteri sentiasa melazimkan dirinya dalam kebaikan dan memelihara dirinya pada masa ketiadaan suaminya. Apabila suami kembali bergembiralah ia bersenang-hatilah ia semula bersamanya.

Di antara yang wajib atas isteri dari hak-hak perkahwinan, apabila
suaminya meninggal dunia, ia tidak berkabung kerana berdukacita lebih dari empat bulan sepuluh hari. Wajib meninggalkan memakai air wangi, tidak menghiaskan diri dalam masa perkabungan itu.

Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman dengan Allah dan Hari Kemudian berkabung atas seorang yang mati lebih dari tiga hari, melainkan atas suami iaitu empat bulan dan sepuluh hari.”

Wajib atas isteri juga tinggal di dalam rumah suaminya yang meninggal dunia itu sehingga iddahnya, tidak boleh berpindah ke rumah keluarganya dan tidak boleh keluar rumah, melainkan kerana sesuatu dharurat saja.

Di antara adabnya lagi, hendaklah ia menjalankan perkhidmatanya yang ia mampu melakukan di dalam rumah, sebagaimana biasanya isteri-isteri para sahabat melakukan, moga-moga Allah redha atas mereka sekalian.

Wallahul Muwafieq Ilaa Aqwamith Thorieq

Resensi Buku: Dahulukan Akhlak Diatas Figh

Dahulukan Akhlak di Atas Fikih

oleh: Dr. Jalaluddin Rakhmat

Salah satu perkembangan memprihatinkan di masyarakat Islam Indonesia
belakangan ini adalah makin kuatnya kecenderungan meninggalkan akhlak
ketika menghadapi perbedaan dalam paham keagamaan. Karena itu, Dr.
Jalaluddin Rakhmat menulis buku Dahulukan Akhlak di Atas Fikih, yang akan
diluncurkan pekan ini di Jakarta. Apa isi buku itu dan bagaimana Kang
Jalal—sapaan cendikiawan muslim itu—melihat perkembangan masyarakat
Indonesia?

Berikut perbincangan Burhanuddin dan M. Guntur Romli (KIUK) dengan beliau, Kamis (29/9) lalu.

KIUK: Kang Jalal, tanggal 8 Oktober ini, Anda akan meluncurkan buku
Dahulukan Akhlak di Atas Fikih. Apa latar belakang penulisannya?

DR. JALALUDDIN RAHMAT: Saya harus mengingat kembali pengalaman hidup
saya. Saya dilahirkan dalam keluarga nahdliyin. Kakek saya punya
pesantren di puncak bukit Cicalengka. Ayah saya pernah ikut serta dalam gerakan
keagamaan untuk menegakkan syariat Islam. Begitu bersemangatnya, beliau
sampai meninggalkan saya pada waktu kecil dan bergabung dengan para
pecinta syariat. Saya lalu berangkat ke kota untuk belajar, dan bergabung
mula-mula dengan kelompok Persatuan Islam (Persis) dan masuk kelompok
diskusi yang menyebut dirinya Rijâlul Ghad, atau pemimpin masa depan.

Pada saat yang sama, saya juga bergabung dengan Muhammadiyah, dan
dididik di Darul Arqam Muhammadiyah, dan pusat pengkaderan Muhammadiyah.
Dari latar belakang itu, saya sempat kembali ke kampung untuk memberantas
bid’ah, khurafat, dan tahayul. Tapi sebetulnya, yang saya berantas
adalah perbedaan fikih antara fikih Muhammadiyah dengan fikih NU orang
kampung saya. Misi hidup saya waktu itu saya rumuskan singkat: menegakkan
misi Muhammadiyah dengan memuhammadiyahkan orang lain.

Tapi apa yang kemudian terjadi? Saya bertengkar dengan Uwa’ (paman)
saya yang masih membina pesantren, dan penduduk kampung. Sebab, ketika
semua orang berdiri untuk salat qabliyah Jumat, saya duduk secara
demonstratif. Saya hampir-hampir dipukuli karena membawa fikih yang baru itu.
Singkat cerita, melalui pengalaman hidup, saya menemukan bahwa fikih
hanyalah pendapat para ulama dengan merujuk pada sumber yang sama, yaitu
Alqur’an dan sunnah. Hanya saja, kemudian berkembang pendapat yang
berbeda-beda. Kekeliruan saya waktu itu: berpikir bahwa fikih itu sama
dengan Alqur’an dan sunnah. Artinya, kalau orang menentang Alqur’an dan
sunnah, jelas dia kafir. Tapi kalau hanya menentang pendapat orang tentang
Alquran dan sunnah, kita tidak boleh menyebutnya kafir. Itu perbedaan
tafsiran saja.

Karena itulah kemudian saya berpikir bahwa sebenarnya ada hal yang
mungkin mempersatukan kita semua, yaitu akhlak. Dalam bidang akhlak, semua
orang bisa bersetuju, apapun mazhabnya. Lalu saya punya pendirian:
kalau berhadapan dengan perbedaan pada level fikih, saya akan dahulukan
akhlak. Kalau datang ke jamaah NU yang qunut subuh, demi ukhuwwah dan
memelihara akhlak di tengah-tengah saudara saya, saya akan ikut qunut,
walau saya misalnya orang Muhammadiyah yang tidak qunut. Tapi, ketika
bergabung dengan orang-orang Muhammadiyah, saya mungkin tidak qunut demi
menghargai jamaah sekitar saya. Itu yang saya maksud mendahulukan akhlak
di atas fikih.

KIUK: Akhlak di sini dalam makna seperti apa, Kang? Bukankah pandangan
tentang akhlak juga berbeda-beda dan cenderung sektarian juga?

Menurut saya, akhlak sebenarnya tidak ada yang sektarian. Saya percaya,
tidak ada relativisme moral, termasuk relativisme akhlak. Ada yang
mengatakan bahwa akhlak itu relatif. Menurut saya, orang baik yang menurut
orang lain bukan orang baik itu tidak ada. Apakah membantu orang lain,
menyebar cinta kasih, menolong mereka yang teraniaya, baik menurut
mazhab tertentu, tapi buruk menurut mazhab lain? Saya ingin tahu: adakah
akhlak yang sektarianistis? Beri saya satu contoh agar saya tidak
kebingungan. Katanya, orang bingung membaca buku saya, karena definisi
akhlaknya membingungkan. Menurut saya, akhlak tidak usah didefinisikan. Sebab
semua orang tahu mana akhlak baik dan mana yang buruk. Yang ingin saya
tahu: kira-kira, apa akhlak yang baik menurut satu mazhab tapi buruk
menurut mazhab lain?

KIUK: Apakah dalam menentukan akhlak tidak akan terjadi perbedaan
standar?

Menurut saya, boleh saja orang lain memakai standar berbeda-beda. Tapi,
standarnya adalah akhlak yang disepakati bersama. Kalau bicara tentang
akhlak, saya bicara tentang sesuatu yang kebaikannya disepakati
bersama. Itulah yang disebut nilai-nilai universal, universal values. Dalam
setiap agama, termasuk Islam, terdapat nilai-nilai universal itu. Kita
bisa berbagi, hatta dengan agama lain dalam soal nilai-nilai universal
ini. Kalau dianalogikan dengan hukum, jadinya kira-kira begini. Di hukum
itu, sebenarnya ada masalah antara kepastian hukum dan keadilan. Kalau
kita berpegang pada aksara, kepada hukum secara letterlijk, akan ada
suatu situasi di mana hukum menjadi tidak adil. Di situlah kepastian
hukum bertabrakan dengan ketidakadilan. Analogi itu bisa mengibaratkan soal
akhlak dan fikih. Akhlak menurut saya adalah sesuatu yang pasti. Semua
orang sepakat soal keutamaan akhlak. Yang tidak sepakat adalah tentang
fikih. Jadi, daripada berpegang pada fikih yang tidak pasti, lebih baik
kita berpegang pada akhlak yang sudah pasti.

KIUK: Kang Jalal, apakah buku-buku fikih betul-betul alpa membahas soal
akhlak? Saya kira, buku fikih Imam al-Ghazali, Bidâyatul Hidâyah, juga
cenderung membahas soal akhlak.

Memang, al-Ghazali sendiri misalnya bercerita tentang sirr, atau
rahasia dari semua aturan fikih. Misalnya, puasa bukan sekadar menahan makan
dan minum, tapi juga mengendalikan diri dari segenap perbuatan yang
dilarang Allah. Jadi ada juga unsur akhlaknya. Tapi kalau kita bicara
fikih sebagai ilmu, tentu tidak begitu. Bacalah buku fikih apa saja,
misalnya Kitâbul Fiqh `alal Madzâhib al-‘Arba`ah. Di situ sudah tidak ada
lagi pembicaraan soal akhlak. Dan ingat, Imam al-Ghazali pun berbicara di
situ dalam konteks pengajaran tasawuf; mencari rahasia di balik ritual,
di balik syariat. Soal syariatnya sendiri tetap berpusat pada fikih.
Sampai ada yang mengatakan fikih itu soal al-hukm biz dzawâhir. Jadi,
fikih itu secara umum memang berpegang teguh pada hal-hal yang lahiriah.
Sementara, al-Ghazali sendiri membedakan antara khalq dan khuluq,
walaupun dalam penulisannya Arabnya sama. Khalq adalah gambaran lahir atau
tubuh kita, sementara khuluq gambaran batin.

Jadi, khalq itu urusan fikih, sementara khuluq “sepatutnya” diurus oleh
tasawuf. Artinya, dalam kenyataan, fikih terpisah dari studi akhlak,
walau para ulama membahas fikih sekaligus menyertakan akhlak sebagai
ilmu. Tapi yang ingin saya tekankan: walau kita mungkin belajar fikih tidak
boleh terlepas dari akhlak, bahkan fikih harus menyempurnakan akhlak,
dalam kenyataan sehari-hari, kita tetap sering menemukan tuntutan fikih
yang bertentangan dengan tuntutan akhlak. Misalnya, tuntutan fikih saya
sebagai orang Muhammadiyah adalah: membaca qunut waktu subuh, bid’ah
hukumnya. Tapi sekarang saya hidup dalam komunitas NU. Tuntutan fikih
saya “jangan qunut subuh”, tapi jemaah NU di tempat saya mengangkat saya
sebagai imam.

Kalau saya tidak punya tuntutan akhlak untuk menjaga silaturahmi dengan
masyarakat sekitar, lalu saya tidak qunut, pecahlah silaturahmi saya
dengan kaum nahdliyyin. Mereka bisa pada lari dan mengulang salat, karena
perbedaan fikih. Makanya, daripada menimbulkan keributan, lebih baik
saya dahulukan akhlak. Apakah qunut itu sunnah atau bid’ah, itu soal
pendapat dan pilihan hadis.

Saya ingin beri contoh yang bagus dari tokoh al-Ikhwan al-Muslimun,
Hasan al-Banna. Konon, al-Banna masuk sebuah masjid pada bulan puasa
ketika orang-orang sedang bertengkar soal jumlah rakaat tarawih. Satu kempok
bilang 11, yang lain condong ke 23 rakaat. Itu jelas pertengkaran
fikih. Al-Banna lalu bertanya pada kelompok yang mendukung 11 rakaat:
“Menurut kalian, apa hukumnya salat tarawih?” “Sunnah!” jawab mereka. Kepada
yang 23 juga ditanya hal sama. Jawabnya: “Sunnah!” Lalu dia bertanya
lagi: “Apa hukum bertengkar antara sesama kaum muslimin di masjid?” Semua
sepakat menjawab “haram”. Al-Banna lalu menyadarkan mereka, “Mengapa
kalian melakukan yang haram demi mempertahankan yang sunnah?” Artinya,
sebenarnya al-Banna sedang menjalankan prinsip mendahulukan akhlak di
atas fikih.

KIUK: Ada yang bilang, kalau sedang memberantas bid’ah yang dilarang
agama, tidak relevan lagi bicara akhlak. Bukankah Nabi menyebut “kullu
bid`atin dlalâlah wa kullu dhalâlatin fin nâr”? Jadi ini soal memberantas
kemungkaran.

Pertama kita harus definisikan dulu makna bid’ah, atau bagaimana ia
didefinisikan di tengah masyarakat. Pada awalnya, bid’ah bermakna sesuatu
yang tidak diperintahkan Rasulullah. Ini merujuk hadis Nabi yang
diriwayatkan dalam Kitab Shahîh Bukhari, “Man ahdatsa fî mâ laitsa `alaihi
min amrinâ fahuwa radd”. Artinya, semua hal yang tidak kami perintahkan
harus ditolak. Jadi, kalau sesuatu itu tidak diperintahkan Rasulullah,
itu namanya bid’ah. Saya kira, semua setuju soal itu.

Bahkan, dalam riwayat Nabi yang lain bid’ah itu disebut muhdatsât,
sesuatu yang baru, yang tidak pernah ada di zaman Nabi. Hadisnya: “Alâ
iyyâkum wa muhdatsâtil umûr”, atau jauhilah olehmu perkara yang baru-baru
dalam agama. Sebab, setiap yang muhdats itu bid’ah, dan setiap bid’ah
sesat, dan setiap kesesatan akan ke neraka. Dulu ketika masih jadi kader
Muhammadiyah, saya hapal sekali hadis itu. Jadi, bid’ah adalah sesuatu
yang baru, yang tidak ada dalam perintah Rasulullah.

Tapi dalam perkembangan zaman dan pada kenyataan di masyarakat, yang
disebut bid’ah itu ialah soal ibadah-ibadah. Dan anehnya, memang yang
kita sebut bid’ah hanya ada dalam aspek ibadah, khususnya yang dijalankan
orang lain, yang dalilnya tidak sama dengan kita. Maksudnya, qunut pada
waktu subuh itu bid’ah, karena dalil tentang qunut subuh itu dla`îf
atau lemah menurut orang Muhammadiyah, tapi tidak dla`îf menurut orang NU.
Bahkan dalam sahih Bukhari dikatakan bahwa, Rasulullah qunut pada waktu
subuh dan maghrib. Artinya, ada dalilnya, dan ada contoh Nabi. Yang
pertama tadi juga punya contoh dari Nabi. Hanya saja, karena kita
berbeda-beda dalam memilih hadis, maka yang mengambil hadis lain disebut
bid’ah. Makanya, dalam soal seperti itu, perbedaannya kadang soal memilih
hadis, atau dalam mendla`ifkan atau mensahihkan hadis.

Tapi, saya tetap setuju bahwa bid’ah yang benar-benar tidak ada
keterangannya dalam Alqur’an dan hadis harus kita tolak. Tapi, kalau ternyata
ada keterangannya dalam hadis, walau menurut kita dla`îf, kita harus
bertoleransi pada orang lain untuk berpendapat dan menganutnya. Dan kalau
kita menjalankan hal seperti itu, kita tidak berbuat dosa, tidak masuk
neraka, dan tidak sesat.

Saya beri satu contoh kecil dari Imam Abu Hanifah dan Imam Syafii.
Suatu saat, Imam Sayfii salat di Baghdad yang dulu bernama Kufah. Dia tidak
qunut pada waktu subuh. Lalu orang-orang bertanya: “Kenapa Anda tidak
qunut?” Imam Syafii menjawab, “Aku menghormati shâhib tilkal maqbarah”
(penghuni kuburan di situ). Ketika itu, Imam Abu Hanifah sudah meninggal
dunia dan orang di sekitar situ tetap mengikuti pahamnya. Maka, demi
menghormati Abu Hanifah, Imam Syafii tidak membaca qunut. Menurut saya,
itu adalah prinsip mendahulukan akhlak di atas fikih.

KIUK: Mengapa umat Islam lebih mementingkan fikih daripada akhlak?

Saya tidak tahu apakah telah membuat beberapa alasan dalam buku saya
soal itu atau tidak. Buku saya itu sebenarnya terbagi dua. Pertama
membahas mengapa kita harus mendahulukan akhlak di atas fikih, berujung pada
contoh Rasulullah, para sahabat, dan para imam mazhab. Pada bab kedua
saya menceritakan târîkhut tasyrî`al-islâmî atau sejarah legislasi hukum
Islam dengan al-manhaj al-naqdî. Jadi buku ini mencoba mengkritik ushul
fikih juga.

Kita ini selalu merasa yakin bahwa fikih kita yang paling benar dan
fikih orang lain keliru. Itu sebenarnya bersumber dari kepercayaan yang
berlebih-lebihan akan kebenaran fikih kita. Padahal, fikih itu dalam
prosesnya selalu membuka ruang kritik. Dulu, Imam Syafii mengkritik konsep
istihsân mazhab Abu Hanifah. Kalau cara dan argumentasi Imam Syafii itu
kita gunakan sekarang, dia bisa dipakai untuk mengkritik konsep qiyâsh
yang diajarkan Imam Syafii sendiri. Jadi ushul fikih itu selalu membuka
peluang kritik.

Apa arti semua itu? Artinya, kita harus tawâdlu` atau rendah hati;
bahwa semua fikih mengandung unsur manusia di dalamnya. Karena itu, semua
fikih mengandung unsur kesalahan. Anda tentu tahu ucapan seorang ulama:
fikih dia benar, tapi mengandung kemungkinan keliru (ra’yî shawâb wa
yahtamilul khata’); begitu juga sebaliknya. Saya tidak tahu sejak kapan
aliran mushawwibûn itu tersingkir dari masyarakat dan diambil-alih
aliran mukhatti’ûn. Tapi tampaknya, aliran yang suka menyalah-nyalahkan
orang itu muncul sejak adanya aliran pembaharuan yang juga suka
menyalah-nyalahkan.

KIUK: Apakah mindset atau paradigma berpikir tertentu juga menjadi soal?

Ya, betul. Saya pernah cerita tentang dua paradigma atau cara memandang
persoalan. Pertama, paradigma akidah. Dalam paradigma ini, hanya ada
satu akidah yang benar, dan hanya satu kelompok yang masuk surga. Dengan
begitu, hanya ada satu kebenaran. Baik-buruknya seseorang diukur
berdasarkan akidah. Padahal, walau banyak orang mengatakan akidah itu ushûl
atau sesuatu yang pokok, ia seringkali juga bersifat furû’ atau cabang.
Jadi ada furû`-furû` akidah.

Ini sebenarnya penjelasan untuk orang awam karena mereka sering ditipu
bahwa akidah adalah ushûl, dan kalau akidah seseorang tidak sama, maka
ia akan kafir dan seluruh amal salihnya tidak diterima Tuhan. Orang
kemudian diukur dari akidah; kalau akidahnya sama dengan kita, dia akan
sama mulianya. Kalau akidahnya tidak sama, dia langsung direndahkan,
mungkin disamakan dengan binatang, bahkan dihapuskan dari segala unsur
kemanusiaannya. Seluruh hak-hak dia sebagai manusia hilang karena urusan
akidah.

Nah, paradigma yang saya promosikan adalah paradigma akhlak. Dalam
paradigma kedua ini, manusia selalu diukur dari kemuliaan akhlak,
kontribusinya terhadap kehidupan sosial, dan pemihakannya pada keadilan. Itulah
paradigma akhlak. Menurut saya, paradigma ini lebih bersih dari
manipulasi pemikiran. Paradigma akidah bisa ditafsirkan macam-macam. Misalnya,
ziarah kubur itu menurut sebagian orang musyrik. Tawâshul dan tabarruk
juga dianggap kemusyrikan. Begitulah paradigma akidah. Akibat lanjut
paradigma ini, kalau betul-betul konsisten diterapkan—untungnya,
kebanyakan tidak konsisten—bisa menjurus pada perpecahan luar biasa di kalangan
umat Islam.

KIUK: Kang Jalal, kalau ditanya mana yang lebih baik, muslim yang taat
ibadahnya tapi tidak baik akhlaknya, atau yang kurang taat tapi
berakhlak baik, mana yang Anda pilih?

Dulu saya selalu menjawab soal ini dengan cara mengelak. Saya katakan,
yang baik ialah yang salat dan akhlaknya bagus. Tapi jawaban itu tidak
jujur, karena pilihannya hanya dua: (a) salatnya baik, tapi berakhlak
buruk; (b) salatnya buruk, tapi akhlaknya baik. Jadi tidak ada pilihan
(c) yang salat dan akhlaknya baik di situ. Kalau jawaban berkelit itu
saya berikan dalam ujian, jelas saya tidak lulus, karena memang tidak ada
dalam kategori.

Karena itu, sekarang saya akan menjawab: lebih baik yang akhlaknya
bagus sekalipun salatnya buruk, ketimbang salatnya bagus tapi akhlaknya
buruk. Dalilnya: satu, karena sebaik apapun salat kita akan terhapus
pahalanya oleh akhlak yang buruk. Haji juga begitu. Sekalipun ia dijalankan
sebaik-baiknya, malah mungkin setiap tahun, kalau di dalam
pelaksanaannya ada rafats, fusûq, dan jidâl, hajinya tidak sah. “Faman faradla fî hinnal hajja falâ rafatsa walâ fusûqa walâ jidâla fil hajj,“ Itu dalil
Alqur’annya.

Dalam ayat lain juga disebutkan, kalau sedekah kita disusul dengan
ucapan yang menyakiti hati, maka sedekahnya akan batal. Dalam Alqur’an
diterangkan, “La tutbi’û shadaqâtikum bil manni wal ‘adzâ”, atau jangan
kamu batalkan sedekahmu dengan menggerutu dan menyakiti hati orang yang
menerima.

Alqur’an juga mengatakan, kalau orang menyakiti sesama manusia akan
dilaknat Allah di dunia dan akhirat. Dalam surah al-Ahzâb: 56 dikatakan,
“Innalladzîna yu’dzûnalLâh wa rasûlah la`anahumulLâhu fid dunyâ wal
âkhirah, wa ‘a`adda lahum adzâban mubîna. Wallladzîna yu’dzûnal mu’minîna
wal mu’minâti bighairi mâ iktasabû faqad ihtamalû buhtânan wa itsman
mubîna”. Intinya, mereka yang menyakiti orang lain itu sedang menghapus
seluruh amalnya.

Sebuah hadis qudsi juga mengatakan: “Ya Ahmad, katakan kepada
orang-orang yang zalim itu agar tidak masuk rumah di antara rumahmu, karena
sudah menjadi kewajiban bagi-Ku untuk menyebut orang yang menyebut namamu.
Dan kalau seseorang menyakiti orang lain dan menyebut namamu, Aku akan
menyebut namanya juga”. Dan di situ diterangkan, “wa dzikrî iyyâhu ‘an
al`anahu” (zikirku padanya adalah: Aku melaknat dia). Jadi, setiap kali
orang salat, tapi akhlaknya buruk, suka menyakiti orang lain, maka
setiap kali dia menyebut “Allahu akbar” dalam salat, Allah justru
melaknatnya. Artinya, salatnya hanya berfungsi untuk mengumpulkan laknat Allah.
Jadi, betapa kasihan orang yang salatnya baik tapi akhlaknya buruk,
karena seluruh ibadah salatnya gugur.

Satu lagi nilai paling penting yang perlu disampaikan di bulan puasa
ini adalah hadis yang termuat di kitab Ihyâ `Ulûmiddîn. Saat itu, kepada
Rasulullah dilaporkan bahwa “Inna fulânah tashûmun nahâra wa taqûmul
lailâ walâkin tu’dzî jirânaha bilisâniha” (ada seorang yang rajin puasa
siang dan salat malam, tapi suka menyakiti tetangga dengan lidahnya).
Apa kata Rasulullah? “Hiyâ fin nâr” (dia di neraka). Kesimpulan saya:
lebih bagus yang akhlaknya baik tapi salatnya jelek, ketimbang salatnya
baik tapi akhlaknya jelek.

KIUK: Bagaimana kalau ada yang mengatakan itu karena salatnya memang
tidak benar. Kalau salatnya sudah benar, semua akan benar?

Kita memang pernah mendengar hadis bahwa “yang pertama kali diperiksa
dari seorang hamba di akhirat kelak adalah salatnya”. Artinya, “Ídza
shaluhat, shaluha sâ’iru `amalih, wa idzâ fasadat, fasada sa’iru `amalih,”
(kalau beres salatnya, bereslah seluruh amalnya, dan jika rusak,
rusaklah seluruh amalnya). Hadis ini bisa diartikan bahwa kalau seseorang
menjalankan salat dengan baik, pastilah akhlaknya akan baik. Tapi tadi
kita berhadapan dengan pertanyaan yang contradictio in terminis; “salatnya
baik, tapi akhlaknya buruk”. Karena itu, ada yang menjawab hal itu
tidak mungkin. Sebab kalau salatnya baik, pasti akhlaknya akan baik.

Tapi, sayang kriteria salat yang baik itu sangat fiqhiyyah atau berbau
fikih. Artinya, tetap saja bergantung pada mazhab yang mana. Menurut
mazhab Syafii, salat yang baik adalah dengan qunut. Tapi menurut Hanbali,
salat yang baik tanpa qunut, kecuali pada saat perang. Dan begitulah
seterusnya. Artinya, ada asumsi kalau salat itu sesuai dengan mazhab
tertentu, barulah ia dikatakan baik.

Saya pernah menemukan beberapa kitab yang berjudul Shalatun Nabi. Waktu
saya baca, ternyata salat ala mazhab Hanafi. Saya beli lagi buku dengan
judul yang sama; ternyata salat menurut mazhab Hanbali. Orang Syiah
juga punya buku tuntunan salat ala Syiah. Judulnya juga senada, Shalatun
Nabi. Jadi, apa yang disebut salat yang paling sesuai contoh Nabi itu,
dan dengan itu menjadi salat yang paling baik, juga bergantung pada
mazhab tertentu.

Yang kedua, dalam kenyataan sosial di masyarakat, kita tak jarang
menemukan orang yang rajin dan khusuk salat, rajin haji, tapi juga khusyuk
korupsi. Nah, apakah hadis itu salah dan Rasulullah keliru? Saya yakin,
Rasulullah tidak salah. Yang salah adalah penafsiran kita terhadap
hadis itu. Karena itu, tafsiran saya ialah: ukuran baik-buruknya salat
bukan pada standar mazhab, tapi dilihat dari ukuran akhlaknya di tengah
masyarakat. Kata Rasulullah, “Idzâ shaluhat, shaluha sâ’iru `amalih”.

Jadi, kalau ingin tahu baiknya salat seseorang, lihatlah amalnya di
masyarakat. Kalau amalnya baik, itu berarti salatnya baik, tidak peduli
apa mazhabnya. Jadi, test case-nya tetap di masyarakat. Kalau saya datang
ke sebuah kampung dan bertemu seseorang yang akhlaknya bagus, tapi
kebetulan fikihnya berbeda dengan saya, saya akan tetap menghormati dan
mencium tangannya. Orang-orang yang dermawan akan saya cium tangannya,
tidak peduli dari mazhab, bahkan agama apa pun. Tapi soal ini jangan
dikomentari macam-macam; seperti ada maksudnya.

Sekarang tesis saya yang terakhir, bukan yang terbaru: hablun minalLâh
atau hubungan baik dengan Tuhan itu diukur dari hubungan baik dengan
sesama manusia (hablun minan nâs). Jangan ada yang merasa sudah takwa
pada Allah hanya karena ibadahnya baik. Tapi, lihatlah apa kontribusi dia
bagi kemanusiaan. Alqur’an sendiri mengatakan bahwa orang-orang yang
membanggakan ritus-ritus agama tapi tidak ada buktinya dalam kehidupan
bermasyarakat—misalnya tetap sombong, suka menindas, dan tidak punya
empati pada penderitaan orang—mereka dianggap pendusta agama. Ayatnya:
“Ara’aital ladzî yukaddzibu bid dîn, fadzâlikal ladzî yadu`ul yatîm…”
(Tahukah Engkau siapa para pendusta agama? Mereka adalah orang yang tidak
peduli pada anak yatim…, Red).

Jadi, hablun minalLâh juga akan rusak kalau hablun minan nâs kita
rusak. Tapi jika hablun minan nâs seseorang baik, itu berarti hablun
minalLâh-nya juga baik. Jadi ukuran hablun minalLâh adalah hablun minan nâs
agar ukurannya bisa kita lihat. Sebab, ukuran hablun minalLâh itu tidak
bisa kita lihat; bagaimana sih tali yang merentang kepada Allah itu?!
Kalau tali yang merentang di antara sesama manusia, kita akan bisa
melihatnya, dan ukurannya cukup banyak.

Salam Kenal Sahabat-Sahabat

Salam Pembebasan,...................

Sahabat-Sahabat Perjuangan Belum Usai, Ketika Tangan Tak lagi sanggup menggapai- mata yang kian Rabun tersusupi debu.Tapi semua ini tak mematahkan semangat perlawanan yang menggelora dalam sebuah ranah Kehidupan.Pahit getir akan terjawab bila semua kondisi-kondisi Material Telah tercapai.
Sahabatku mulailah kita tatapi sedikit-demi sedikit perubahan yang mungkin tak berarti.......
Dem sebuah ikatan emosial gelorakanlah silaturahim dan perkuatlah basisi massa perjuangan......
Salam Hangat Temen2 Seperjuangan; Ahfas Fahrianto, Tigor, Adi Saparul Ardi (ketua Umum PC.PMII Kota Sukabumi), Ujang Suryana dan Temen2 PMII kota Sukabumi.

Sahabat2 sependeritaan Buruh dalam Tekanan Sistem Penindasan: Ujang Supriatna, Darajat, Rahmat, Isni, Riri, Rina, Yadi, Raja Bokep (Arman), Supervisor Dapur (Rais),dan Temen2 Over Houl.

Salam Takjim pada semua Guru dan Pembimbinbg jalan Kebenaran; KH.ALi Nurdin (alm) semoga Allah Selalu Memberi Rahmat, KH.Abdussalam, Kang Edwin,dll

Semoga ini menjadi penyemangat dan Cita-Cita Besar Perjuangan

"Bangkit Melawan Hapus Semua Penindasan"



Sukitman Sudjatmiko

Kisah Garam dan Telaga

Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu.

"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?".

"Segar.", sahut tamunya.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi.
"Tidak", jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.

"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.