Dalam hidup seperti sekarang, terutama di daerah urban atau perkotaan, masihkan dapat menentukan realitas diri sendiri?bahkan, untuk menentukan kursi tama, membeli pesawat televise atau telepon genggam?
Kenyaan saat ini telah menempatkan manusia dalam lingkungan dengan tawaran menggiurkan di setiap detik.apa saja dari burger Rp.5000 hingga 1 juta per potong, busana kerja yang terbaru, model rumah, tipe mobil, ratusan jenis kredit, sampai berbagai cara akal berfikir dan cara hati mengapresiasi segalanya.
Seorang ibu rumah tangga misalnya, berpeluang besar kehilangan ruang kemungkinan, bahkan hak untuk menentukan diri sendiri. Alam demokrasis konon menggaransi hal dan kebebasan itu. Tetapi saat ibu rumah tangga itu hendak membeli microwave, misalnya ia akan lebih dulu memperhatikan iklan cetak, meninton reklame TV, bujukan pramuniaga, rekomendasi teman, peluang diskon, kredit murah, atau saran kiri kanan. Dalam relitas demokratis ini, dunia laissez faire ini, manusia adalah makhluk pemilih, secara ideal dan teoritis. Dalam praksisnya pilihan itu sebenarnya didesakan hingga membuat manusia tersudut dan terpaksa mengambil keputusan berdasarkan persilangan akhir dari desakan-desakan tawaran/pilihan itu.
Hidup dan kenyataan telah menentukan kita, bukan sebaliknya. Tidak sesuai arogansi manusia klasik dan modern yang menganggap: manusia menentukan dunia ini, antroposentrisme sekarat karena dunia yang telah berjalan melalui system mekanisme, sifat, logika, bahkan tujuannya sendiri. Manusia menepi (ditepikan) menerima diri sebagai elemen yang harus tetap menempelkan diri bila tak mau mati, kehilangan eksistensi.
Kemahalan Yang Diterima
Dalam kenyataan tragis itu, kita dapat melihat ironi-ironi kecil di keseharian, yang ditingkat massif menjadi tragedy tersendiri, ironi kecil yang misalnya terjadi pada karyawan/ professional muda, misalnya yang bergaji RP. 5 juta – Rp. 10 Juta per bulan, bujangan, sewa rumah sendiri atau mencicil, menemukan dirinya selalu dalam kesulitan keuangan tiap bulan. Sebagai manusia
Hal tragis dalam kasus ini adalah biaya kemahalan yang ia terima begitu saja. Untuk membeli blus, sandal, bahkan segelas kopi, ia harus membayar kadang sepuluh kali lipat dari harga standards atau biaya produksi itu. Sebagai resiko
Borjuasi Itu
Dalam riwayat masyarakat modern, yang industrialis-kapitalis kenyataan social seperti itu terpetakan dalam istilah borjuasi (bourgeoisie) sebuah masyarakat kelas menengah yang dibentuk dari kelas pengrajin (artisan) pada abad pertengahan eropa, yang lewat gilda-gildanya menanjak menjadi kelas yang menentukan. Begitu kuatnya kelas pedagang dan pengusaha sehingga raja perancis banyak menganugerahkan gelar kehormatan kepada mereka pada abad –14, dan giliran berikutnya berkonspirasi menciptakan system feudal. Diinspirasi revolusi perancis dan amerika abad 17-18, kelas ini memegang tampuk kekuasaandari Negara bangsa-industrialis dan akhir abad ke 19 berkembang menjadi sebuah Negara kapitalis.
Dari kelas inilah, ide-ide tentang kebebasan individu, agama, hak sipil, dan perdagangan bebas muncul, menjadi semacam idelogi global saat ini. Namun dikelas ini pulalah menemukan pikiran-pikiran yang sempit, sikap materialistis, kemunafikan dan rendahnya apresiasi budaya, hingga seniman-seniman besar macam Moliere atau Flaubert melancarkan kritik keras terhadap mereka. Cirri-ciri itu dengan kondisi lebih tragis, dapat dilihat dan diidentifikasikan pada masyarakat yang tereksposisi diwala tulisan ini. Kelas pengusaha dan pedagang sebagaimana terjadi disejarah Negara industri lainnya, meningkat terus hierarkinya hingga menjadi pengusaha atau menguasai proses hidup utama dalam tata kenegaraan atau kemasyarakatan kita.
Yang menarik, filosofi dan perilaku borjuis ini bekerja dan terdistribusi hingga menjangkau semua kelas, merembes kebawah sesuai karakter panutan masyarakat. Secara social politis bisa jadi seseorang bukan anggota kelas (industri) itu, tetapi secara mental dan praksis mereka menerapkannya. Tanpa Tanya, protes semua taken for granted apa adanya.
Hal ini yang membuat antara lain, perilaku koruktif tak hanya menyerang mereka yang ada dikelas atas, tapi juga seorang guru atau pegawai kelurahan yang hidupnya dipenuhi ilusi borjuasi. Akibatnya untuk expenses yang luar biasa bagi gaji bulanan itu ia harus mencari tambahan, sampingan, sabetan, apapun yang tak lain adalah korupsi.
Ini salah satu tradisi bangsa kita, yang tanpa kepemimpinan kuat (tough) visioner, berani dan berapresiasi tinggi akan membuat bangsa ini tenggelam dalam pseudo-life hidup semu, yang Cuma memberi identifikasi, kita korban yang tak berdaya, lebih dari ratusan tahun konon saat kita berdiam diri sebagai inlander.
Maka untuk memilih seorang pemimpin (local/pusat) jangan sampai kita terpaksa menggunakan pertimbangan seperti diatas. Bisa bisa, bukan hanya pengusaha ganteng dan ternama, Tukul arwana pun bisa jadi presiden kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar